Ayo, Ringkus dan Ganyang Kontra-Revolusi

(Pidato Ulang Tahun Ke-43 PKI, diucapkan di Istana Olahraga “Gelora Bung Karno” pada tanggal 26 Mei 1963)

D.N. Aidit (26 Mei 1963)


Sumber: Ayo, Ringkus dan Ganyang Kontra-Revolusi. Djakarta: Jajasan "Pembaruan", 1963. Scan PDF Booklet "Ayo, Ringkus dan Ganyang Kontra-Revolusi"


Sekarang kita berkumpul di Istana Olahraga “Gelora Bung Karno” yang megah, hasil karya putra-putra Indonesia dan Uni Soviet, salah satu lambang persahabatan abadi kedua rakyat yang besar ini. Sungguh indah suasana ini!

Dari lubuk hati yang sedalam-dalamnya saya mengucapkan terimakasih kepada para hadirin, kepada semua penyumbang dan penyambut yang telah membantu suksesnya perayaan ulang tahun PKI ini. Juga kepada kawan-kawan dan sahabat-sahabat yang terpaksa mendengarkan dari luar gedung ini karena kehabisan tempat, saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

Terutama kepada tamu kita dari luar negeri, yaitu Kawan Ted Bacon yang mewakili Partai Komunis Australia, yang sengaja datang untuk ikut merayakan ulang tahun ini saya, atas nama CC dan segenap anggota PKI serta rakyat pekerja Indonesia, mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepadanya pribadi, kepada Partainya dan kepada Rakyat pekerja negerinya.

Pada kesempatan ini bukan maksud saya untuk menguraikan sejarah PKI sejak berdirinya 43 tahun yang lalu hingga kini. Tidak, ini sudah saya lakukan pada kesempatan-kesempatan lain. Lagi pula ini agak kurang seirama dengan seruan Presiden, yang saya setujui sepenuhnya, pada akhir pidatonya tanggal 15 Mei yang lalu, di hadapan Sidang Umum ke-2 MPRS, yaitu: Ayo Hancurkan Kontra-Revolusi ! Bagi kaum Komunis Indonesia seruan ini mempunyai makna yang dalam sekali. Segala kewajiban dan tugas sebagai putra bangsa Indonesia, sebagai orang revolusioner, sebagai Manipolis, sebagai Republikan dan sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat terpusat pada seruan ini.

PKI Dipelajari

Bagi sebagian orang PKI berarti ilham, keyakinan, kekuatan dan hari depan. Bagi sebagian lagi berarti ancaman, bahaya, bencana dan kegelapan. Bagi sebagian lagi PKI merupakan tanda tanya, keajaiban, rahasia. Tetapi semua mengakui peranan penting PKI. PKI ada dan PKI tidak dapat diabaikan, oleh karena itu PKI perlu dipelajari.

Saya tak perlu berbicara panjang lebar tentang kedudukan PKI dalam gerakan proletariat internasional. PKI dicintai oleh semua Partai Marxis-Leninis, PKI diakui sebagai barisan yang terhormat dalam Gerakan Komunis Internasional, PKI mendapatkan tempat dalam hati proletariat sedunia. Diterjemahkannya dokumen-dokumen PKI dalam banyak bahasa oleh Partai-partai sekawan adalah bukti, bahwa PKI dipelajari dengan tujuan-tujuan yang baik. Ini tidak diragukan!

Kaum imperialis pun sangat rajin mempelajari PKI. Tidak ada tulisan pemimpin-pemimpin PKI yang tidak mereka terjemahkan ke dalam bahasa mereka. Sering mereka lebih cepat menerjemahkan tulisan-tulisan itu ke dalam bahasa Inggris daripada penterjemah-penterjemah CC PKI. Profesor-profesor dan sarjana-sarjana lainnya mereka kerahkan untuk mempelajari PKI, mereka membayar mahal sarjana-sarjana itu, mereka tempatkan tulisan-tulisannya dalam majalah-majalah yang berpengaruh, mereka terbitkan buku-buku tentang PKI. Ini berarti pekerjaan ekstra bagi pemimpin-pemimpin PKI, karena harus mempelajari tulisan-tulisan sarjana-sarjana borjuis ini, lebih-lebih karena kami tahu bahwa kaum intelektual dan tokoh-tokoh reaksioner Indonesia banyak yang “mempelajari PKI” dari tulisan-tulisan sarjana-sarjana borjuis asing. Dalam lemari-lemari buku intelektual Indonesia yang berhasrat mempelajari PKI biasanya tidak ada atau sangat tidak lengkap buku-buku yang diterbitkan PKI sendiri, tetapi mereka mempunyai koleksi buku-buku tulisan sarjana-sarjana borjuis asing seperti George Mc Turnan Kahin, Herbert Feith, Justus M. Van Der Kroef, Guy J. Pauker, Boyd R. Compton, Jean R. Mintz, Arnold C. Brackman dan Donald Hindley. Yang belakangan ini, Donald Hindley, telah mendapat gelar doctor (Ph.D) dari Universitas Nasional Australia dengan disertasi tentang PKI. Jadi, di luar negeri sudah ada “Doktor PKI”, doktor dalam “ilmu PKI”!

Sarjana-sarjana borjuis asing itu mempelajari PKI pada umumnya atas pesanan majikan-majikannya kaum imperialis, pekerja-pekerja politik imperialis dan para ideologisnya yang bernafsu besar untuk mematahkan gerakan Komunis dan gerakan revolusioner Rakyat Indonesia. Tulisan-tulisan ini sekaligus merupakan tuntunan bagi kaki tangan-kaki tangannya di dalam negeri. Yang belakangan ini biasanya hanya menelan tulisan-tulisan sarjana-sarjana borjuis itu, tempo-tempo dengan dikunyah lebih dulu, tapi umumnya main untal saja.

Jadi, ada dua tujuan “mempelajari PKI”, untuk tujuan yang baik dan untuk tujuan yang buruk.

Pada kesempatan ini saya menyerukan kepada kaum Komunis dan para sarjana progresif Indonesia , baik yang ada di dalam PKI maupun di luar PKI, supaya mempelajari PKI lebih rajin dan lebih teliti daripada sarjana-sarjana borjuis asing itu. Bagi putra-putra Indonesia yang baik, PKI bukan tanda tanya dan sama sekali bukan ancaman, bahaya, apalagi bencana atau kegelapan, PKI adalah pengilham, pemberi keyakinan dan kekuatan untuk berjuang lebih jujur dan lebih hebat bagi hari depan Rakyat Indonesia yang gemilang.

Meriam Berbalik

Tanggal 23 Mei 1963 adalah ulang tahun ke-43 PKI. Banyak peristiwa nasional dan internasional telah terjadi dalam masa satu tahun semenjak kita memperingati ulang tahun Partai pada tahun yang lalu. Peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan revolusioner telah dan sedang terus mencapai kemajuan-kemajuan baik nasional maupun internasional.

Peristiwa nasional yang terpenting, sudah barang tentu, adalah kisah kepahlawanan perjuangan pembebasan Irian Barat yang telah memberikan pelajaran besar kepada rakyat kita, yaitu pelajaran bahwa imperialisme, meskipun nampaknya kuat, dapat dipukul mundur dan ditendang keluar pagar oleh rakyat yang bertekad bulat.

Irian Barat, daerah yang meliputi kira-kira seperlima, atau persisnya 22 %, daripada wilayah negara kita ini, menuntut banyak dan banyak sekali pekerjaan. Sungguh untung sekali Republik berhasil membebaskan daerah ini, sehingga Irian Barat terhindar menjadi semacam Australia, dimana orang kulit putih menjadi tuan rumah sedangkan penduduk asli menjadi manusia-manusia kelas kambing yang “ditakdirkan” lambat laun melenyap dari muka bumi. Hanya gerakan revolusioner kelas buruh Australia yang dapat menyelamatkan penduduk asli dari “takdir” yang celaka ini.

Aku merasa bahagia sekali dapat ikut rombongan Bung Karno mengunjungi Biak, Kotabaru, dan Merauke pada awal bulan ini. Dengan demikian, aku menjadi saksi bahwa Republik betul-betul sudah menancap di Irian Barat. Irian Barat yang tadinya bagaikan meriam ditujukan kepada Republik, sekarang dengan Republik yang ber-Manipol dan ber-Nasakom sudah dibalik menjadi meriam Republik yang ditujukan ke dada imperialis. Alam Irian Barat sangat indah. Di antara para saudara dan kawan-kawan tentunya ada yang jatuh cinta pada keindahan Danau Toba, atau barangkali keindahan alam Hongkong. Tidak berlebih-lebihan kalau kukatakan bahwa di Irian barat terdapat ratusan alam seindah semacam itu, karena hampir saban teluk dengan pulau-pulau dan bukit-bukitnya adalah indah. Sehingga, para Saudara dan Kawan-kawan, kalau aku oleh CC PKI dibolehkan memilih mau bekerja di mana, tidak ayal lagi aku akan menjawab mau bekerja di Irian Barat, baik karena keindahan alamnya maupun karena menariknya, hebatnya dan uniknya persoalan-persoalan yang kita hadapi di sana. Betapa tidak, kita harus membawa sebagian dari rakyat kita yang masih hidup dalam zaman batu ke alam Manipol dan zaman sputnik.

Pengembalian Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 merupakan peristiwa penting dalam perjuangan mengkonsolidasi seluruh wilayah Republik Indonesia. Maka itu Irian Barat yang telah kembali dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia tidak boleh menjadi daerah neo-kolonial, dimana kaum imperialis bebas menanam modalnya. Perjuangan pembebasan Irian Barat belumlah selesai dengan hanya pemasukannya ke dalam wilayah kekuasaan RI.

Kemenangan lain yang telah kita capai sebagai hasil kerja sama rakyat dan Angkatan Bersenjata ialah pemulihan keamanan dalam negeri, tapi yang masih perlu dikonsolidasi.

Sebagai kelanjutan daripada kemenangan Rakyat Indonesia dalam memulihkan keamanan, sejak tanggal 1 Mei 1963 SOB telah dihapuskan di seluruh Indonesia termasuk Peperti serta Peperdanya. Menurut ketentuan semua kekuasaan pemerintah di pusat dan di daerah-daerah sudah harus diserahkan kembali kepada Pemerintahan Sipil.

Sidang Pleno I CC PKI pada bulan Februari tahun 1963 mensinyalir, bahwa “Segenap kekuasaan demokratis dan patriotik tidak boleh bimbang dan mundur, sebaliknya harus berani mencegah percobaan-percobaan yang ditujukan untuk menciptakan situasi SOB tanpa SOB. Pendeknya, sesudah penghapusan SOB benar-benar dan sepenuhnya dilaksanakan apa yang dikatakan Presiden Sukarno ‘Manipol memimpin bedil’.” Tepat sinyalemen ini karena segera setelah SOB dihapuskan kekuatan kontra-revolusioner, bekasPSI, Masyumi,PRRI-Permesta serta DI-TII bersamaan dengan unsur-unsur pro-Kuomintang dan pro-Malaysia telah melancarkan pengacauan yang bersifat teror rasial secara membabi buta, mulai dari Tegal, sampai di Bandung, Tasikmalaya, Garut, Bogor, Cianjur, Sukabumi, dan lain-lain.

Teror Rasial

Dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum ke-2 MPRS tanggal 15 Mei yang berlalu Presiden Soekarno antara lain berkata bahwa “musuh-musuh Revolusi Indonesia masih bergerombolan mengintai kita, bergerombolan ingin merongrong kita” dan bahwa “Juga kejadian-kejadian di hari-hari belakangan ini harus membuka mata kita!” Presiden menutup pidatonya dengan seruan “Ayo hancurkan kontra-revolusi!”

Ya, kontra-revolusi harus dihancurkan, dan untuk itu mata harus dibuka selebar-lebarnya, jangan dipicingkan, jangan ditutup. Tapi yang lebih penting dari membuka mata ialah membuka hati dan membuka pikiran. Kalau semuanya ini dibuka, maka “kejadian-kejadian di hari-hari belakangan ini”, yaitu teror rasial, sadisme dan vandalisme di Tegal, Bandung, Tasikmalaya, Garut, Bogor, Cianjur, Sukabumi dan lain-lain adalah konta-revolusi.

Dalih apapun tidak dapat menutupi bahwa gerakan ini adalah gerakan rasialis, dan bahkan gerakan rasialis yang sadistis dan vandalistis, dan sebagaimana setiap gerakan rasialis, gerakan ini adalah reaksioner dan oleh karena itu bertentangan dengan Pancasila, bertentangan dengan Manipol, Panca Program dan Dekon yang revolusioner itu.

Ada orang-orang yang mencoba-coba berusaha mengurangi sifat reaksioner daripada perbuatan rasialis dengan mengatakan, bahwa ini adalah tindakan mereka yang “ekonomi lemah” terhadap mereka yang “ekonomi yang kuat”, jadi tidak boleh dihubungkan dengan rasialisme. Ada lagi yang mencoba membelanya dengan mengatakan bahwa ini adalah “cetusan murni” daripada perasaan kebangsaan dari generasi muda kita, dari mahasiswa-mahasiswa dan pemuda-pemuda kita. Dengan dalih-dalih ini di satu pihak menunjukkan bahwa pada mereka sendiri masih melekat pikiran-pikiran rasialis dan sauvinis, dan di pihak lain dimaksudkan untuk memberi hati kepada kaum kontra-revolusioner, untuk membukakan pintu-pintu kompromi, dan dengan demikian mencegat adanya tindakan-tindakan tegas terhadap kaum kontra-revolusioner. Hal semacam ini sebenarnya sudah lebih dulu mereka kerjakan, yaitu dengan tidak mengambil tindakan tegas terhadap ‘peristiwa Cirebon’. Peristiwa Tegal, Bandung dan lain-lain adalah akibat daripada pemberian hati ini!

Mengapa saya katakan bahwa ini bukan perjuangan untuk emansipasi ekonomi antara mereka yang “ekonomi lemah” terhadap mereka yang “ekonomi kuat”? Perjuangan untuk emansipasi ekonomi bagi Rakyat Indonesia harus berarti menghancurkan ekonomi imperialis dan feodal di satu pihak, sedangkan di pihak lain memperkuat ekonomi nasional. Tapi apa yang kita lihat dari perbuatan kaum teroris rasialis? Mereka menghancurkan ekonomi nasional Indonesia dengan merusak alat-alat produksi, transportasi dan distribusi sehingga lebih memacetkan ekonomi nasional. Perbuatan-perbuatan mereka jelas bertentangan dengan Manipol dan Dekon tentang pengerahan segenap dana dan tenaga progresif.

Bekas-Bekas Masyumi-PSI Dalangnya

Bukti lain bahwa teror itu tidak ditujukan untuk emansipasi ekonomi, tapi semata-mata rasialisme, nampak dari perbuatan mereka yang merusak milik warganegara-warganegara miskin keturunan Tionghoa, sampai-sampai baju dan celana si miskin ini mereka bakar, cobek tukang gado-gado keturunan Tionghoa mereka pecahkan, kuali penjual goreng pisang keturunan Tionghoa mereka balikkan, meja dan segala barang pecah-belah mereka hancurkan dan entah apa lagi perbuatan biadab mereka. Ya, sampai-sampai juga kasur-bantal, diktat-diktat dan buku-buku mahasiswa keturunan Tionghoa dibakar oleh teman sekamarnya yang menyebut dirinya “asli”. Tentu ada yang akan mengatakan bahwa ini ekses. Tidak, ini bukan ekses, ini hakikat, inilah rasialisme!

Lagi pula, seandainya persoalan memang antara mereka yang “ekonominya lemah” terhadap yang “ekonomi kuat”, apakah memang begitu cara menyelesaikannya? Kalau cara menyelesaikan kontradiksi antara mereka yang “ekonomi lemah” dengan yang “ekonomi kuat” dibolehkan secara sewenang-wenang demikian, maka dalam sekejap mata itu orang-orang kaya dari BPM-Shell, Stanvac Caltex dan Unilever, juga orang-orang kaya lainnya di desa-desa dan kota-kota akan kehilangan segala-galanya, diserbu oleh kaum miskin kota dan desa yang memang sudah lama menyimpan dendam dan mendongkol kepada kaum pengisap yang kaya-kaya itu. Mengerahkan orang banyak untuk menumpas habis kekayaan orang-orang kaya, baik OKB (Orang Kaya Baru) maupun OKL (Orang Kaya Lama) bukanlah pekerjaan yang berat. Insting bertempur daripada masa miskin mudah, sangat mudah, dikobarkan untuk memiskinkan orang-orang kaya. Hal ini hendaklah diingat oleh kaum subversi asing maupun oleh OKB-OKB dan OKL-OKL yang sadar atau tidak sadar mendalangi dan mengipasi api rasialisme yang bersembunyi di balik “perjuangan untuk emansipasi ekonomi”. Ini hari orang-orang keturunan Tionghoa yang menjadi sasaran mereka, tetapi besok bisa datang gilirannya tuan-tuan sendiri, dengan alasan yang sama dan dengan “tujuan” yang sama, yaitu “menyelesaikan kontradiksi” antara golongan “ekonomi lemah” dengan “ekonomi kuat”.

Kami kaum Komunis bukan hanya tidak menyetujui, tetapi mengutuk cara menyelesaikan kontradiksi semacam itu. Ini bertentangan linea-recta dengan Manipol, karena Manipol jelas mengatakan bahwa kontradiksi pokok yang harus diselesaikan sekarang ialah kontradiksi antara Rakyat Indonesia dengan imperialisme dan feodalisme. Kontradiksi-kontradiksi lain adalah tidak pokok dan penyelesaian kontradiksi-kontradiksi ini tidak boleh menumpulkan kontradiksi pokok. Inilah Manipol, dan demikianlah kalau benar-benar setia pada Manipol.

Tepat sekali apa yang dikatakan oleh presiden Sukarno, bahwa tindakan-tindakan rasialis kontra-revolusioner ini didalangi oleh bekas-bekas Masyumi-PSI dan PRRI-Permesta. Di samping itu jelas pula bahwa elemen-elemen Kuomintang dan Pro-Malaysia juga ikut mendalangi kejadian-kejadian ini. Tidaklah sulit untuk menerima kebenaran ini, karena justru di daerah-daerah dimana dulunya Masyumi-PSI kuat, justru dimana banyak bekas-bekas DI-TII, di situlah teror rasial, sadisme dan vandalisme yang paling hebat. Dalam waktu dua minggu kerusakan yang ditimbulkan DI di dalam kota lebih banyak daripada waktu mereka bertahun-tahun di hutan. Jadi jelas, bahwa DI di dalam kota lebih berbahaya daripada DI di hutan

Politik 3 Anti

Gerakan kontra-revolusioner ini ditandai dengan jelas sekali oleh tiga-anti: Pertama anti-Sukarno, kedua anti-Tionghoadan ketiga anti-Komunis.

Politik anti-Sukarno sangat jelas dari kenyataan bahwa tindakan ini ditujukan untuk menyabot pelaksanaan Deklarasi Ekonomi dengan jalan menghancurkan alat-alat produksi, alat-alat transportasi dan distribusi. Kaum kontra-revolusioner tidak sudi melihat apa yang mereka namakan “Rezim Sukarno” berhasil melaksanakan program sandang-pangan. Dengan merusak ekonomi mereka membikin rakyat menjadi lebih sengsara, dan dalam keadaan sengsara itu mereka kira akan lebih mudah membawa rakyat menentang “Rezim Sukarno”.

Politik anti-Tionghoa, politik rasialis, juga jelas seperti sudah diterangkan di atas. Mereka mau mempraktikkan American way of life model Alabama dimana rasialisme dikobar-kobarkan dan mau mempraktekkan Verwoerdisme yang sinting itu. Yang mereka serang tidak hanya warga negara Republik Indonesia keturunan Tionghoa tetapi juga warga negara RRT. Mereka mau menimbulkan konflik RI-RRT dan dengan demikian, merusak solidaritas Asia-Afrika. Mereka mau melanjutkan “Gerakan Assaat” yang terkutuk dan melanjutkan praktik PP 10, yaitu pengrusakan ekonomi dengan selimut anti-Tionghoa.

Politik anti-Komunis jelas dari kenyataan bahwa mereka berbuat menentang kaum Komunis Indonesia yang teguh melawan rasialisme, membela Deklarasi Ekonomi dan menentang dirusaknya persahabatan Indonesia-RRT. Mereka pikir, bahwa mereka akan berhasil mengkonfrontasi kaum Komunis Indonesia dengan Rakyat Indonesia dan dengan demikian menggagalkan pembentukan Kabinet NASAKOM.

Sekarang pertanyaan: apakah kaum kontra-revolusioner mencapai maksud-maksudnya itu?

Mereka memang berhasil merusak ekonomi Indonesia. Berbagai pabrik menjadi tidak jalan karena mereka bakar atau rusak. Lalu lintas barang dan penumpang banyak yang macet karena pembakaran bus, truk, opelet dan sebagainya. Distribusi juga macet karena lalu lintas barang banyak terhenti dan toko-toko serta warung-warung banyak terpaksa tutup karena mengalami kerusakan. Ya, mereka telah berhasil membikin harga lebih membubung dan menambah jumlah pengangguran yang disebabkan oleh kerusakan alat-alat produksi, transportasi dan distribusi. Mereka boleh bergembira dengan hasil-hasil yang sudah mereka capai ini.

Politis Gagal Total

Mereka sekarang di dalam sarang-sarang persembunyiannya sedang bergembira memuas-muaskan diri, pemimpin-pemimpin mereka berbicara tentang “aksi masa” mereka yang berhasil dan sekarang sudah sampai kepada taraf “meningkatkan” aksi-aksinya.

Tetapi, apakah mereka berhasil mencapai tujuan-tujuan politik tiga-anti mereka, yaitu anti-Sukarno, anti-Tionghoa dan anti-Komunis?

Mereka gagal total, mereka sekarang dikonfrontasi dengan seluruh nasion. Mereka tidak hanya menghadapi Sukarno, tidak hanya menghadapi Tionghoa atau menghadapi Komunis, tapi mereka menghadapi seluruh nasion yang mengutuk mereka dan yang sudah bertekad untuk meringkus dan mengganyang mereka.

Serangan-serangan kaum imperialis dan kaum kontra-revolusioner dalam negeri telah dijawab oleh Rakyat Indonesia dengan mengangkat Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup oleh MPRS. Ini berarti, Rakyat dan Bung Karno lebih bersatu dan lebih kuat. Sikap tegas Presiden Sukarno terhadap kaum kontra-revolusioner telah sangat meningkatkan martabat Presiden Sukarno di mata rakyat, dan bagi rakyat menjadi jelas bahwa bertambahnya kesulitan-kesulitan ekonomi bukan karena kesalahan pimpinan Sukarno, tetapi karena kerusakan-kerusakan akibat teror kontra-revolusioner yang didalangi oleh bekas-bekas Masyumi-PSI, PRRI-Permesta, DI-TII, Kuomintang dan pembela-pembela Malaysia. Dengan demikian tujuan anti-Sukarno mereka gagal.

Perbuatan teror mereka terhadap Rakyat Indonesia keturunan Tionghoa dan terhadap warga negara RRT telah memperdalam solidaritas dan simpati Rakyat Indonesia yang “asli” dengan mereka yang menjadi korban rasialisme. Rakyat Indonesia menjadi lebih terbuka matanya, bahwa musuh mereka bukan orang Tionghoa, tetapi kaum kontra-revolusioner yang didalangi oleh bekas-bekas Masyumi-PSI dan sebagainya, bahwa yang menjadi pengacau di bidang ekonomi adalah kaum kontra-revolusioner. Para korban rasialisme meningkat kesadaran politiknya dan makin melihat bahwa tidak ada jalan lain, mereka harus ambil bagian dalam barisan revolusioner dan aktif melawan kontra-revolusi. Dengan demikian tujuan anti-Tionghoa mereka juga gagal.

Juga tujuan anti Komunis mereka mengalami kegagalan. Kaum Komunis tidak sendirian, tetapi seluruh nasion berjuang melawan rasialisme, membela Deklarasi Ekonomi dan membela persahabatan Indonesia-RRT seperti yang dimuat dalam Pernyataan Bersama Presiden Sukarno dengan Ketua RRT Liu Sau-ci belum lama berselang. Politik anti-Komunis mereka telah dijawab oleh Rakyat Indonesia lewat resolusi MPRS baru-baru ini sebagai berikut:

“Agar tercapai kegotong-royongan Nasional berporoskan Nasakom untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi, maka perlu diadakan pengintegrasian antara Pemerintah dan rakyat yang terorganisisasi dalam Bidang Administratif maupun Eksekutif di pusat maupun di daerah-daerah, begitu pula antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah-pemerintah Daerah dengan Badan-badan Legislatif.

“Pengintegrasian tersebut harus dicapai dengan melaksanakan Panca Program Front Nasional dalam rangka penyelesaian Tri program Kabinet Kerja. Pengintegrasian seperti yang dimaksudkan selanjutnya dapat dicapai dengan mengintensifkan rituling di segala bidang dari Pusat sampai ke Daerah-daerah, menurut persyaratan yang lebih sempurna yang ditentukan lebih dulu di bawah pimpinan Presiden/Mandataris sendiri”. (Resolusi MPRS No. I, Pasal 12)

Mereka gagal total dalam artian politik. Teror-teror sadistis dan vandalis, pelanggaran terhadap hak-hak warga negara dan semua tindakan kontra-revolusionernya telah membukakan borok-borok kaum kanan, telah menelanjangi mereka sebagai penyalahguna tertib sipil dan sebagai kuda tunggangan untuk mengembalikan berlakunya SOB. Kaum kanan terpojok dan tersudut oleh perbuatan mereka sendiri. Seluruh nasion bangkit menentang mereka. Ini ternyata dari pidato-pidato Presiden, dari sikap alat-alat negara, dari sikap partai-partai dan organisasi massa baik secara sendiri-sendiri maupun yang dinyatakan dalam pernyataan bersama oleh tokoh-tokoh utama partai-partai, organisasi-organisasi massa, tokoh-tokoh Angkatan Bersenjata dan tokoh-tokoh daerah di Bandung baru-baru ini.

Tetapi ini tidak berarti bahwa kaum kontra-revolusioner sudah menyerah kalah. Seperti sudah dikatakan di atas, mereka sekarang bicara tentang “meningkatkan” aksi-aksi. Oleh karena itu kewaspadaan politik seluruh rakyat, semua partai, organisasi-organisasi massa, Front Nasional dan semua alat negara yang Manipolis harus terus dipertinggi, keberanian dan kesiap-siagaan harus dipupuk dan ditingkatkan terus-menerus untuk mengganyang kaum kontra-revolusi. Keberanian dan kecepatan dalam bertindak adalah faktor yang menentukan kemenangan dalam meringkus kaum kontra-revolusioner.

DEKON No. 2 Sesudah Manipol

Suatu peristiwa yang nomor dua pentingnya setelah disahkannya Manipol sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara adalah pengumuman DEKON, Deklarasi Ekonomi Republik Indonesia yang diucapkan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 28 Maret 1963. DEKON adalah dokumen Pemerintah Republik Indonesia, yang untuk pertama kalinya disusun secara gotong-royong berporoskan NASAKOM serta merupakan dokumen yang langsung melempangkan pandangan-pandangan yang keliru tentang pelaksanaan Manipol, terutama di bidang ekonomi. Dengan tandas DEKON menegaskan bahwa Revolusi Indonesia terdiri dari dua tahap, yaitu pertama tahap revolusi nasional dan demokratis, dan kedua tahap revolusi sosialis di Indonesia. Ada juga sementara orang Indonesia yang lebih suka mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi dewasa ini dengan lebih banyak lagi mengundang bantuan dan kredit luar negeri, terutama dari Dana Moneter Internasional (DMI, IMF), dan dengan mengadakan devaluasi nilai uang Rupiah kita. Dekon telah memberikan pukulan parah terhadap pandangan-pandangan reaksioner demikian dan menunjukkan betapa kita seharusnya dalam lapangan ekonomi berdiri di atas dua kaki sendiri. Benar sekali apa yang selama ini sudah menjadi pendirian kaum Komunis Indonesia, bahwa dalam perjuangan di bidang ekonomi kita harus juga dituntut oleh semangat Trikora, yaitu patriotisme, semangat Manipol, semangat percaya kepada kekuatan sendiri, semangat tidak mementingkan diri sendiri dan semangat berjuang mati-matian untuk membangun ekonomi nasional yang bebas dari imperialisme.

Pelaksanaan DEKON secara konsekuen berarti sama dengan pelaksanaan ekonomi nasional dan demokratis. Tugas di bidang ekonomi tidak akan dapat dilaksanakan sebagai mestinya apabila kekuatan politik yang berlangsung sekarang ini tidak diubah. Maka itu pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan NASAKOM merupakan tuntutan perjuangan Rakyat Indonesia yang objektif, untuk menciptakan syarat-syarat bagi pelaksanaan DEKON. Bila pun orang mengatakan seakan-akan pembentukan Kabinet NASAKOM itu “keinginan subyektif PKI”, kampanye-kampanye bisik-bisik begini tidak bisa menutupi kenyataan bahwa tuntutan Kabinet itu suatu kebutuhan obyektif Rakyat Indonesia.

Dalam ceramah di muka para mahasiswa PTIK pernah saya katakan bahwa kekuasaan negara RI sekarang masih terdiri dari dua segi, yaitu segi yang mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan segi yang mewakili kepentingan-kepentingan musuh-musuh rakyat. Mengingat masih adanya kekuatan-kekuatan gelap yang mewakili kepentingan-kepentingan musuh-musuh rakyat, maka tidak akan mungkin pelaksanaan DEKON dapat berjalan dengan lancar. Hanya kekuasaan negara yang mencerminkan kegotong-royongan nasional berporoskan NASAKOM-lah yang akan mampu menciptakan syarat-syarat untuk melaksanakan Manipol dan Dekon secara konsekuen.

KWAA

Patut menjadi kebanggaan Rakyat Indonesia, bahwa peristiwa internasional yang penting, yaitu Konferensi Wartawan Asia-Afrika, dalam bulan April yang lalu telah berlangsung dengan sukses di Indonesia. Prajurit-prajurit pena dari dua benua, Asia dan Afrika, telah membulatkan tekad untuk meneruskan dan memperhebat perjuangan mereka melawan imperialisme dan kolonialisme, lama dan baru, yang dikepalai oleh Amerika Serikat, untuk merebut dan membela kemerdekaan nasional negara-negara mereka. Dengan dijiwai oleh Semangat Bandung solidaritas rakyat-rakyat Asia dan Afrika semakin hari semakin diperkokoh.

KWAA benar-benar telah merupakan kemenangan dari rakyat-rakyat Asia-Afrika, karena KWAA telah berhasil memperkuat front persatuan rakyat-rakyat Asia-Afrika melawan imperialisme dan neo-kolonialisme AS, untuk kemerdekaan nasional, demokrasi, perdamaian dan Sosialisme. Saya mengharap agar KWAA dalam waktu yang tidak begitu lama dapat berkembang menjadi KWAAA (Konferensi Wartawan Asia, Afrika dan Amerika Latin), dan bahkan meliputi seluruh negeri the new emerging forces.

GANEFO

Suatu demonstrasi dari kekuatan baru yang sedang tumbuh (the new emerging forces) tidak hanya terlihat pada KWAA, tetapi juga pada Konferensi Pendahuluan dari Games of the new emerging forces (GANEFO) yang berlangsung bersamaan waktu dengan KWAA itu juga. Ide GANEFO yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno sebagai jawaban atas tantangan IOC yang mengeluarkan Indonesia tidak hanya mendapat sambutan hangat dari Rakyat Indonesia, tetapi juga dari rakyat-rakyat Asia-Afrika seperti yang diputuskan oleh KSRAA ke-3 di Moshi (Tanganyika) dalam bulan Februari yang lalu. Kaum Komunis Indonesia bersama dengan seluruh Rakyat Indonesia akan bekerja sekuat tenaga untuk suksesnya penyelenggaraan GANEFO pada tahun ini juga. Ada orang yang ‘menyayangkan’ Indonesia keluar dari IOC dan mengatakan “apakah keputusan itu tidak terburu-buru, apa GANEFO ada hari depan, mengingat kuatnya IOC dan tradisinya yang lama?” Orang yang berpikiran demikian itu terlalu diliputi oleh rasa cinta pada yang lapuk dan tidak berorientasi pada yang baru dan sedang tumbuh. Yang kita bina sekarang tidak hanya sedang tumbuh, tetapi juga merupakan kekuatan yang dalam banyak hal sudah lebih unggul daripada kekuatan lama yang masih bercokol the old established forces. Kita kaum Komunis berpendapat bahwa sesuatu yang baru tumbuh, sekalipun kelihatannya kecil dan lemah pada permulaan perkembangannya, dalam proses perkembangan selanjutnya pasti menjadi besar dan kuat. Sedangkan sebaliknya, suatu hal yang mula-mula kelihatannya besar dan kuat, tetapi karena mewakili kekuatan yang lama, kekuatan yang tidak mempunyai hari depan, akhirnya pasti lenyap. Beginilah pandangan materialisme dialektik dan histori. Demikianlah IOC yang “besar”, “kuat”, seakan-akan tak terguncangkan kewibawaannya, kini mulai ditandingi oleh GANEFO, yang masih kecil dan belum ada pengalamannya. Tetapi GANEFO pasti menang. Ia merupakan pertanda bagaimana dalamnya krisis umum kapitalisme dewasa ini, sehingga di bidang olahraga pun kapitalisme tak dapat lagi merajalela. Tidak dapat disangsikan, bahwa apabila semua kekuatan baru yang sedang tumbuh secara aktif mengambil bagian dalam GANEFO, tentulah GANEFO akan menjadi sukses besar yang belum pernah ada taranya dalam sejarah kegiatan olahraga internasional.

Revolusi Dari Atas dan Dari Bawah

Dalam usaha menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi, pikiran-pikiran progresif semakin hari semakin diterima oleh rakyat.

Misalnya, sudah secara umum diterima pikiran bahwa soal inflasi tidak bisa diatasi hanya dengan tindakan-tindakan di bidang moneter saja, dan bahwa soal inflasi terutama harus dipecahkan dengan jalan mempertinggi produksi dalam negeri. Maka itu, untuk mengatasi inflasi tidak ada jalan lain kecuali dengan konsekuen mengikutsertakan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokok revolusi dalam segala kegiatan produksi dan kenegaraan.

Kelanjutan dari pikiran ini ialah bahwa pemecahan masalah ekonomi negeri tidak dapat dipisahkan dari pemecahan masalah-masalah lain, terutama masalah politik. Susunan ekonomi yang perlu dibangun memerlukan kekuasaan politik yang sesuai.

Pengubahan sistem masyarakat menjadi tuntutan yang urgen dari Rakyat Indonesia sekarang ini, yaitu pengubahan susunan ekonomi yang kolonial dan setengah-feodal menjadi susunan ekonomi yang nasional dan demokratis. Hal ini dapat dilakukan oleh suatu Kabinet Gotong Royong yang berporoskan NASAKOM yang melancarkan programnya untuk menghapuskan pengisap-pengisap besar di kota dan di desa, yaitu kaum kapitalis birokrat, kaum komprador dan tuan tanah.

Seperti yang sudah saya terangkan di atas, kekuasaan negara Republik Indonesia sekarang ini masih terdiri dari dua segi. Untuk dapat menjalankan tugas-tugas revolusi sekarang, segi yang mewakili kepentingan-kepentingan rakyat harus dapat mengungguli dan mendesak keluar mereka yang mewakili kepentingan-kepentingan musuh-musuh rakyat di dalam kekuasaan negara.

Kaum Komunis Indonesia akan terus bekerja keras untuk mengkonsolidasi dan memperkokoh segi rakyat dalam kekuasaan negara, dengan setia kepada asas revolusi dari atas dan dari bawah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Sukarno dalam pidato Jarek.

Bersamaan dengan itu kaum Komunis Indonesia akan tetap mengajak semua kekuatan revolusioner, terutama para pemimpin yang maju, untuk bersama dengan rakyat meneruskan perjuangan mengganyang kaum imperialis, kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner dalam negeri, pengisap-pengisap besar di kota dan di desa, untuk dapat menciptakan suatu masyarakat Indonesia yang merdeka dan demokratis sebagai landasan untuk menuju masyarakat sosialis.

Dengan ketetapan MPRS mengenai Resopim dan Takem sebagai pedoman pelaksanaan Manipol, Dekon sebagai pedoman pelaksanaan garis-garis besar haluan pembangunan di bidang ekonomi dan pidato “Ambeg Parama-Arta” sebagai landasan kerja pelaksanaan pembangunan, maka tersedialah senjata-senjata baru bagi Rakyat Indonesia dalam perjuangannya untuk melaksanakan Manipol dan Dekon secara konsekuen.

Internasional

Di lapangan internasional, kaum imperialis juga mendapat pukulan satu demi satu. Di mana-mana mereka berusaha mewujudkan politik agresinya, tapi jika dihadapi oleh kekuatan rakyat yang bersatu dan dengan bantuan negeri-negeri sosialis serta rakyat-rakyat progresif sedunia, mereka tidak dapat mencapai tujuannya. Sikap Rakyat Kuba di bawah pimpinan Kawan Fidel Castro dalam menghadapi agresi kurang ajar imperialis AS telah menimbulkan kekaguman dan rasa hormat pada semua rakyat. Kepahlawanan Rakyat Kuba patut menjadi teladan bagi semua rakyat yang berjuang untuk kemerdekaan nasional melawan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme.

Di dalam masalah perbatasan India-RRT pun kaum imperialis yang dikepalai AS tidak berhasil mencapai maksud-maksudnya yang jahat. Sikap RRT yang bijaksana dan yang mengutamakan kesetiakawanan Asia-Afika secara de facto telah menciptakan gencatan senjata di perbatasan, sehingga sesungguhnya terdapat suasana untuk diadakannya perundingan antara India-RRT. Dalam keadaan ini makin tertelanjangilah sikap kepala batu dari Nehru yang tetap tidak mau berunding. Walaupun dijejali oleh Amerika Serikat, Yugoslavia dan lain-lain, tetapi kaum reaksioner India takkan berhasil merusak semangat Bandung dan perkembangan “the NEF”.

Tetapi walaupun mendapat bermacam-macam pukulan, imperialisme belum mati, dan selama ia masih hidup maka ia tetap imperialisme. Di Irak telah terjadi kudeta reaksioner yang telah melakukan penyembelihan besar-besaran terhadap kaum progresif. Peristiwa Irak memberi pelajaran betapa jadinya nasib seorang revolusioner yang separuh-separuh. Karim Kassem di satu pihak mau melawan imperialisme, tapi di pihak lain takut kepada rakyat dan menindas kekuatan progresif, menindas kaum Komunis. Akibatnya ia gagal mempersatukan seluruh potensi nasional, sehingga dengan mudah dapat digulingkan. Kasssem adalah potret dari orang revolusioner yang separuh-separuh! Semoga tidak ada orang revolusioner Indonesia yang suka mempunyai potret semacam ini.

Kini imperialis AS sedang memancing-mancing lagi perang saudara di Laos. Tapi kita yakin bahwa Rakyat Laos yang sudah memperoleh pengalaman yang kaya dalam perjuangannya yang lama akan dapat menggagalkan segala intrik imperialis itu. Jadi, juga di lapangan internasional, dalam perjuangan melawan imperialis, harus ada kewaspadaan politik yang setinggi-tingginya dan persatuan serta solidaritas serapat-rapatnya dari seluruh rakyat sedunia.

Situasi internasional sekarang menunjukkan bahwa front internasional anti-imperialis dan cinta damai the new emerging forces sudah lebih berkembang dan mencapai kemenangan-kemenangan baru. Sedangkan kekuatan-kekuatan lama yang masih bercokol the old established forces makin terdesak mundur dan terpojok.

Perkembangan-perkembangan dan kemenangan-kemenangan baru dari the new emerging forces dewasa ini merupakan perkembangan-perkembangan dan kemenangan-kemenangan dari tiap bagiannya, yaitu dari kubu sosialis, dari negara-negara baru merdeka yang anti-imperialis serta dari kekuatan-kekuatan progresif lainnya yang terdapat di seluruh dunia. Perkembangan-perkembangan serta kemenangan-kemenangan itu telah mendesak mundur kekuatan-kekuatan lama yang masih bercokol, yaitu kekuatan negeri-negeri imperialis, kolonialisme dan neo-kolonialisme serta semua kekuatan reaksioner yang terdapat di seluruh dunia.

Apa Itu “NEF’?

Ada sementara kawan menanyakan apakah ide the new emerging forces tidak bertentangan dengan teori-teori Marxisme-Leninisme. Jawabnya ialah, bukan saja tidak bertentangan, tetapi malahan sepenuhnya sesuai dengan ajaran klasik dari Lenin, seperti yang diterangkan dalam pidato Lenin di muka para aktivis Partai di Moskow tanggal 6 Desember 1920, dimana Lenin menyetujui semboyan “Kaum Buruh Semua Negeri dan Nasion-nasion Tertindas, Bersatulah!” Sekarang semboyan itu telah menemukan bentuk-bentuk konkret, yaitu persatuan antara kubu sosialis dengan negeri-negeri yang merdeka dan anti-imperialis dan kekuatan-kekuatan progresif lainnya, yang semuanya berjuang melawan kolonialisme, imperialisme dan untuk perdamaian.

Tidak dapat disangkal bahwa setiap pertumbuhan dari salah satu dari tiga kekuatan revolusioner yang besar itu sekaligus adalah pertumbuhan dari seluruh kekuatan baru, dan merupakan pukulan terhadap kekuatan lama. Perjuangan Rakyat Kalimantan Utara menentang Malaysia, menentang Inggris dan kaki tangannya Tengku Abdulrachman, atau pun kemenangan-kemenangan dari Rakyat Kenya dalam melawan imperialis Inggris, atau pun kemajuan-kemajuan Rakyat Yordania dalam melawan neo-kolonialisme AS, atau pun kegigihan kelas buruh Kanada dalam menentang imperialis AS, adalah sama-sama bentuk-bentuk kemenangan dan perjuangan dari kekuatan baru. Begitu pula halnya dengan kemajuan-kemajuan dalam pembangunan Sosialisme dan Komunisme di negeri-negeri sosialis, atau pun perjuangan pembebasan dari patriot-patriot Meksiko, atau pun kemajuan-kemajuan dari perjuangan kelas buruh di Australia, atau pun perjuangan rakyat bersenjata di Venezuela, perjuangan untuk membebaskan Antoine Gizenga di Konggo, atau pun kemenangan-kemenangan perjuangan rakyat di Laos sekarang ini, atau pun perlawanan heroik dari Rakyat Kuba menentang agresi Amerika Serikat atau pun perlawanan yang heroik dari kaum buruh dan Rakyat Jepang terhadap imperialisme Amerika Serikat dan kaum monopolis Jepang sendiri, atau pun hasil-hasil pemogokan-pemogokan kaum buruh di Amerika serikat, atau pun perkembangan dari perjuangan bersenjata rakyat di Afrika Selatan, Rodesia Selatan dan Utara, Kamerun, Anggola, “Giunea Belgia” dan sebagainya.

Maka itu adalah kewajiban yang terus-menerus bagi semua kekuatan baru untuk tetap waspada menghadapi segala serangan, subversi serta komplotan dari kaum imperialis dan kaum kontra-revolusioner serta kaki tangan lainnya yang senantiasa berusaha untuk memecah-belah serta mengadu-domba kekuatan-kekuatan dari the new emerging forces. Tidak dapat dilupakan oleh rakyat-rakyat yang berjuang melawan imperialisme akan kegiatan-kegiatan kaum revisionis modern Yugoslavia, yang selalu dan di mana saja berusaha keras mengelok-elokkan imperialisme, untuk menyusun “kekuatan ketiga” dan melunakkan perjuangan anti-imperialis dengan melakukan politik pecah-belah, seperti yang ditunjukkan oleh sikapnya terhadap Malaysia dan masalah perbatasan India-RRT. Sudah diketahui umum bahwa masalah perbatasan India-RRT suatu bentuk agresi imperialis Amerika Serikat dengan menggunakan politik ekspansionis Nehru yang memang telah mengkhianati Dasa Sila Bandung.

Mengingat akan peranan Indonesia yang semakin penting dalam barisan kekuatan baru yang sedang tumbuh, maka dituntut adanya politik luar negeri yang benar-benar progresif, konsekuen anti-imperialis, suatu diplomasi terbuka bagi rakyat, yang menguntungkan perkembangan the new emerging forces dan benar-benar memberikan pukulan terhadap the old established forces.

Satu soal yang masih selalu tidak bisa dimengerti oleh rakyat dan dilawan olehnya ialah adanya keinginan dari pejabat-pejabat tertentu untuk mengundang “corps perdamaian” AS, yang jelas-jelas merupakan penetrasi neo-kolonialisme AS. Bahkan akhir-akhir ini diberitakan bahwa peace corps yang sudah ditolak oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, masih diundang oleh Departemen Olahraga dengan dalih untuk keperluan GANEFO. Mengapa Indonesia yang sudah bersikap jantan terhadap IOC menjadi banci terhada peace corps? Seolah-olah barisan the new emerging forces tidak mempunyai pelatih-pelatihnya sendiri! Hanyalah dengan berani menentang intrik-intrik jahat kaum imperialis dan kaki tangannya, dan berani menempuh jalan-jalan baru yang pada permulaan nampaknya lebih sulit, tetapi lebih baik bagi rakyat, barulah kita dapat menjalankan politik luar negeri yang progresif dan menguntungkan kekuatan baru yang sedang tumbuh.

GKI

Mengenai usaha-usaha untuk mengatasi keretakan dalam Gerakan Komunis Indonesia (GKI) dewasa ini, PKI menyambut dengan gembira akan adanya pertemuan antara delegasi PKUS dan PKT pada tanggal 5 Juli 1963 yang akan datang. Seperti yang sering kami nyatakan, perlu diadakan konsultasi-konsultasi dan diskusi-diskusi bersahabat antara Partai-partai sekawan dengan saling menghormati kedaulatan penuh masing-masing Partai berdasarkan Deklarasi Moskow 1957 dan Pernyataan Moskow 1960. Kesetiaan dalam praktek pada Deklarasi dan Pernyataan ini merupakan ukuran utama bagi kesungguhan sesuatu Partai Komunis.

Pada kesempatan ini ingin saya mengulangi apa yang pernah saya nyatakan: Cara-cara sosial-demokrat dan cara-cara anarkis dalam usaha untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dalam GKI adalah cara-cara yang pasti tidak akan berhasil, karena ia adalah cara-cara yang tidak Marxis-Leninis. Kaum sosial-demokrat biasa memecahkan perselisihan secara liberal, sehingga pengikut-pengikutnya terpecah-pecah dalam faksi-faksi, sedangkan kaum anarkis biasa bekerja tanpa aturan atau suka melanggar aturan. Kita kaum Komunis sudah biasa hidup berdisiplin, hidup dengan aturan-aturan yang kita bikin sendiri dengan sadar dan kita taati sendiri. Aturan-aturan demikian sudah ada dalam GKI, yaitu Pernyataan Komunis 1960.

Kejadian-kejadian akhir-akhir ini dalam GKI laksana prahara besar yang mengamuk seolah-olah mengguncangkan Marxisme-Leninisme yang agung. Partai kita telah mengambil sikap yang bertanggung jawab dan benar. Kita tetap mengharap supaya semua polemik dan kecam-mengecam benar-benar dihentikan, baik dalam pidato-pidato dan dalam tulisan-tulisan, baik terhadap Partai Buruh Albania maupun terhadap Partai-partai Komunis dan Buruh lainnya. Sikap PKI yang memegang teguh prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme, tetapi luwes dalam membawakannya, juga dalam masalah keretakan GKI ini, mendapat sambutan baik dari para kader dan anggota PKI. Partai kita yakin akan kebenaran sikapnya dan mendidik para anggota Partai untuk bersikap kritis, rendah hati, percaya pada diri sendiri dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi masalah persatuan GKI.

Dalam perjuangan untuk memulihkan persatuan dalam GKI kita harus terus melawan revisionisme, baik klasik maupun modern, dan terus melawan dogmatisme, baik klasik maupun modern. Deklarasi Moskow 1957 menunjukkan dengan tepat bahwa bahaya utama dalam GKI pada dewasa ini adalah revisionisme modern dan Pernyataan Moskow 1960 menugaskan Partai-partai Marxisme-Leninis untuk menelanjangi terus-menerus dan berjuang aktif melawan revisionisme Yugoslavia yang sekarang makin erat dalam genggaman imperialisme AS. Berhenti melawan revisionisme baik klasik maupun modern berarti berhenti berjuang sungguh-sungguh melawan imperialisme dan musuh-musuh rakyat lainnya. Berhenti melawan dogmatisme, baik klasik maupun modern, berarti memisahkan diri dari massa dan nasion, menutup kemungkinan Partai menjadi pemimpin massa dan nasion. Kedua-duanya adalah berbahaya, dan yang paling berbahaya ialah yang tidak dilawan.

Kita kaum Komunis Indonesia akan terus berjuang untuk pemulihan kebulatan dalam GKI, melaksanakan internasionalisme proletar dalam kata-kata dan perbuatan, merealisasi dalam praktek hak sama dan kebebasan bagi semua Partai Marxis-Leninis dan mengusahakan tercapainya kata sepakat antara pemimpin-pemimpin Komunis berbagai negeri dalam tukar-menukar pengalaman secara langsung sebagai bentuk-bentuk persiapan dalam menghadapi pertemuan-pertemuan di antara Partai-partai Komunis dan Buruh semua negeri, baik secara bilateral maupun secara multilateral.

Betapa pun besarnya prahara yang mengamuk, namun Marxisme-Leninisme akan tetap tegak, berkembang dan jaya!

“NEF” Makin Perkasa

Dari uraian tentang situasi internasional di muka jelaslah bahwa makin besarnya kekuatan negara-negara sosialis, semakin kokohnya persatuan kubu sosialis, makin hebatnya gerakan pembebasan nasional, makin majunya gerakan proletariat dan kekuatan-kekuatan progresif di negeri-negeri kapitalis, maka makin perkasa kekuatan baru yang sedang tumbuh (the new emerging forces) dan makin terciptalah kemungkinan-kemungkinan dan syarat-syarat baru untuk menghacurkan imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme yang dikepalai oleh imperialisme AS, dan makin besarlah pula kemungkinan untuk mencegah perang dunia yang baru.

Di daerah-daerah Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang sekarang sedang bergolak perjuangan anti-imperialis secara besar-besaran untuk kemerdekaan nasional dan dimana juga terdapat perebutan daerah-daerah di antara negeri-negeri imperialis, maka di situlah dewasa ini terdapat mata-rantai imperialisme yang lemah dan menjadi fokus dari kontradiksi-kontradiksi di dunia dewasa ini.

Maka itu landasan bersama antara Rakyat dan Pemerintah RI dalam menjalankan politik luar negeri yang berdasarkan politik konfrontasi antara “the NEF” dan “the OEF” harus terus diperkokoh dan dikembangkan. Indonesia dapat memainkan peranan yang penting dalam memperkuat dan mengkonsolidasi kekuatan ”the NEF” asalkan kita dalam kata-kata dan perbuatan dengan teguh menjunjung tinggi asas-asas politik luar negeri yang bebas dan aktif anti-imperialisme dan cinta damai. Dengan persatuan nasional Rakyat Indonesia yang berporoskan NASAKOM dan dengan Bung Karno sebagai Presiden RI serta kekuatan PKI dan kekuatan-kekuatan progresif umumnya yang makin bertambah besar dan berpengaruh, maka tersedialah syarat-syarat bagi Republik dan Rakyat Indonesia yang besar untuk melaksanakan tugas sejarah tersebut.

Kebulatan Pikiran dalam PKI

Bagi PKI sendiri selama masa belakangan ini juga merupakan masa ujian, ujian dalam politik, ideologi dan organisasi. Kita dapat mengatakan bahwa PKI lulus dalam ujian itu. Sebagaimana dikatakan dalam Laporan Politik kepada Sidang Pleno I CC bulan Februari yang lalu, PKI kini sudah merupakan Partai massa yang terbesar di negeri kita dan sudah terkonsolidasi di bidang politik, ideologi dan organisasi. Hasil-hasil ini telah kita capai dengan bekerja keras dan dengan pengorbanan-pengorbanan. Memang, kita semua belum merasa puas, tapi kita perlu menilai hasil-hasil yang kita capai. Ketika berbicara di depan kader-kader CDR dalam bulan Desember 1962 saya antara lain mengatakan bahwa achievement kita yang terbesar sejak tahun 1951 adalah terdapatnya kebulatan pikiran Marxis-Leninis di kalangan kaum Komunis Indonesia. Umpamanya, pada sepuluh tahun yang lampau sama sekali belum terdapat kejernihan dan kesatuan pikiran mengenai soal-soal pokok revolusi Indonesia. Sedangkan sekarang, bukan saja terdapat kebulatan pikiran mengenai soal-soal ini di kalangan kaum Komunis Indonesia, tetapi dengan ditetapkannya Manipol oleh MPRS sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara maka juga terdapat kebulatan pikiran dari seluruh bangsa Indonesia mengenai soal-soal pokok Revolusi kita. Hal ini diperkuat lagi oleh Dekon.

Selain dari pada itu, kebulatan pikiran kaum Komunis Indonesia juga mengenai semua politik dan kebijaksanaan yang dijalankan oleh Comite Central, meliputi soal-soal dalam dalam negeri dan juga soal-soal luar negeri, baik mengenai politik luar negeri maupun mengenai gerakan Komunis internasional. Kebulatan pikiran ini adalah penting dan harus kita pelihara bagaikan memelihara biji mata kita sendiri, karena hanya dengan demikian kita dapat mempersatukan dan memobilisasi seluruh Rakyat Indonesia, kita dapat lebih memperkuat front persatuan nasional untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke akar-akarnya.

Kebulatan pikiran di dalam PKI sangat ditakuti oleh kaum imperialis. Segala jalan mereka tempuh untuk merusak kebulatan dalam Partai ini. Sarjana-sarjana imperialis mereka kerahkan untuk menciptakan “teori” bahwa dalam pimpinan PKI ada yang “pro-Sukarno” dan “anti-Sukarno”, ada yang “pro-Moskow” dan “pro-Peking”. Begitu keras mereka tekankan soal ini sehingga mereka sendiri, bersama mereka kaki tangan-kaki tangannya dalam negeri, menjadi percaya pada isapan jempolnya sendiri. Kepercayaan mereka begitu dalam pada dongengan “perpecahan dalam PKI” sehingga tempo-tempo mereka kaget dan bingung berhadapan dengan realitas. Saya yang biasa mereka cap “pro-Moskow” tiba-tiba dicap “pro-Peking”, kemudian “pro-Moskow” lagi, “pro-Peking” lagi, dan kemudian “pro-Moskow” dan “pro-Peking” sekaligus, dan akhirnya dikatakan bahwa PKI berada dalam bahaya karena “terlalu menggantungkan diri pada Sukarno”.

Juga kejadian-kejadian teror rasial belakangan ini mereka hubung-hubungkan dengan “pro-Moskow” dan “pro-Peking”. Mereka bisik-bisikkan, bahwa teror itu didalangi oleh mereka yang “pro-Moskow” dalam PKI sebagai balasan terhadap apa yang mereka namakan “kemenangan Peking” di Indonesia dengan kunjungan Liu Sau-ci dan KWAA. Tapi bersamaan dengan itu mereka juga kaok-kaok “Moskow mau jalan damai” dan “Peking mau jalan perang”. Bagaimana dapat dipahami “jalan damai” dengan teror rasial? Tidak, soal “Moskow-Peking” adalah soal lain, soal bagaimana mengubur imperialisme secepat mungkin. Lagi pula soalnya bukan “Moskow-Peking”, tetapi soal GKI seluruhnya.

Semua pikiran gila kaum imperialis dan kaki tangan-kaki tangannya ini bukan hanya tidak mengguncangkan PKI, tetapi malahan memperkuat kebulatan pikiran dalam PKI dan memperkuat keyakinan bahwa “imperialis adalah imperialis” dan “kaki tangan imperialis sering lebih gila dari imperialis sendiri”.

Partai Massa dan Partai Kader

Hal lain yang telah kita capai, ialah bahwa kita sudah dapat membangun Partai massa yang bukan saja merupakan teras dari gerakan Komunis yang besar, tapi sejak tahun 1959, sejak Kongres Nasional ke-6 PKI, sudah merupakan organisasi Komunis yang besar. Hasil ini kita capai melalui pelaksanaan Plan 3 Tahun Pertama Mengenai Organisasi dan Pendidikan, selesai dalam tahun 1959, yang telah dapat mengaktifkan organisasi basis Partai dan mendidik anggota-anggota baik dengan aksi-aksi massa maupun dengan pendidikan teori. Dengan terlaksananya Plan 3 Tahun Pertama maka mayoritas kader dari tingkat Central sampai ke basis sudah terdidik dalam teori dan semangat Marxisme-Leninisme. Merekalah yang menjadi tulang punggung bagi pembangunan PKI selanjutnya.

Plan 3 Tahun Kedua Mengenai Pendidikan dan Organisasi telah mengkonsolidasi hasil-hasil itu lebih lanjut. Pengalaman Partai kita untuk membangun Partai massa ini membuktikan bahwa dengan pimpinan Central yang bulat dan pendidikan dalam semangat teori Marxisme-Leninisme yang terus-menerus, Partai Komunis dapat merupakan Partai yang pada satu pihak banyak jumlah anggotanya (massal) tapi pada pihak lain merupakan organisasi yang tersentralisasi dengan disiplin yang kuat. Pengalaman kita membuktikan bahwa Partai massa semacam itu tidak lebur menjadi organisasi massa biasa, tapi tetap merupakan bentuk organisasi yang tertinggi dari kelas buruh dan menjalankan fungsi-fungsinya sebagai detasemen terdepan, sebagai Partai Lenin, Partai tipe baru. Partai semacam itu adalah Partai massa dan Partai kader sekaligus. Itulah partai kita!

Dari pengalaman pembangunan Partai, pernah kita simpulkan bahwa pada kaum Komunis Indonesia terdapat tiga ciri, yaitu pertama, kaum komunis Indonesia dijiwai oleh perpaduan patriotisme proletar dan internasional proletar, kedua, kaum Komunis Indonesia berpendirian, bahwa pembangunan organisasi penting, tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi, dan ketiga, kaum Komunis Indonesia teguh memegang prinsip Marxisme-Leninisme, tapi luwes dalam membawakannya. Ketiga ciri ini harus kita pelihara dan kita kembangkan, harus menjadi darah daging kita.

Plan 4 Tahun

Dari situasi yang telah kita tinjau di atas jelaslah bahwa keadaan makin menguntungkan bagi kekuatan-kekuatan revolusioner dan makin memburuk bagi kekuatan-kekuatan reaksioner baik di dalam maupun di luar negeri. Juga jelas bahwa tugas-tugas yang kita hadapi semakin besar, luas dan pelik.

Kita kaum Komunis, sebagaimana yang sudah-sudah, harus mengambil bagian aktif dalam melaksanakan tugas-tugas itu. Bahkan dari kita dituntut lebih banyak lagi, karena makin banyak rakyat melihat kepada Partai kita dan menaruh harapan kepada kita. Oleh sebab itu, sekali-kali tidak ada alasan bagi kita untuk merasa sombong atau puas diri akan hasil-hasil yang sudah kita capai. Kita harus meneruskan tugas-tugas pembangunan Partai yang sudah digariskan oleh Kongres Nasional VII PKI.

Tidak berapa lama lagi Plan 3 Tahun Kedua Mengenai Pendidikan dan Organisasi sudah akan berakhir dan Plan kita yang baru, Plan 4 Tahun Mengenai Kebudayaan, Ideologi dan Organisasi akan dimulai. Sesuai dengan keputusan Kongres VII Gerakan Akhiran untuk menyelesaikan Plan 3 Tahun Kedua dilakukan dengan poros 4 Meningkat, yaitu: (1) meningkat Sekolah Politik dan Kursus Rakyat; (2) meningkat anggota Partai dan Ormas; (3) meningkat jumlah calon menjadi anggota Partai; (4) meningkat pemasukan iuran. Pengalaman-pengalaman menunjukkan bahwa kunci untuk mensukseskan 4 Meningkat itu ialah meningkatkan SP dan KR. Itu berarti bahwa dengan pendidikan teori dan politik yang tepat aktivitas anggota-anggota menjadi dipertinggi dan dijamin terlaksananya tugas-tugas yang lain.

Tapi kita sekarang bukan saja berkecimpung dalam mengakhiri Plan 3 Tahun Kedua. Partai kita sedang bersiap-siap untuk menyongsong Gerakan Awal Plan 4 Tahun, Plan raksasa yang akan datang. Dengan Plan ini kita akan membikin Partai kita lebih mampu dan lebih mahir menghadapi tugas dan pekerjaan apa pun.

Sebagaimana sudah dikatakan dalam Sidang Pleno I CC, dalam rangka pelaksanaan segi Kebudayaan dari Plan 4 Tahun ini Partai kita harus mengorganisasi gerakan besar-besaran untuk meningkatkan taraf kebudayaan rakyat pekerja, terutama kaum Komunis, mulai dari kegiatan PBH, pendidikan-pendidikan umum tingkat SR sampai menengah, pendidikan-pendidikan khusus mengenai kesenian dan kejuruan, sampai kepada berbagai cabang akademi dan fakultas. Melalui pendidikan-pendidikan ini kita akan dapat memenuhi suatu kebutuhan urgen daripada Partai pada taraf perjuangan sekarang, yaitu kader-kader Komunis atau Marxis-Leninis yang berpengetahuan umum dan khusus (mempunyai keahlian tertentu), kader-kader yang “Komunis dan ahli”.

Ideologi dan Organisasi

Mengenai pendidikan Ideologi Plan 4 Tahun ini kita harus memberikan perhatian khusus kepada pendidikan guru-guru Sekolah Partai di semua tingkat dan kepada mata pelajaran filsafat.

Praktik pengalaman-pengalan revolusioner kita banyak dan kaya sekali. Untuk bisa memimpin praktek revolusioner selanjutnya dan secara aktif menggunakan segala kesempatan untuk mempercepat perkembangan proses-proses revolusioner menurut arah yang tepat, kita perlu menyimpulkan secara teori semua pengalaman itu. Pekerjaan teori kita sudah maju dan mutunya pun boleh dikatakan lumayan, tapi sering kali masih terjadi bahwa politik praktis Partai telah berjalan dan berbuah, tapi kesimpulan-kesimpulan teori yang seperlunya belum ditarik. Oleh sebab itu dalam Plan 4 Tahun yang akan datang kita harus memperbesar barisan pekerja teori dan menyempurnakan sistem dan metode pendidikan untuk mempercepat peningkatan taraf teorinya.

Peningkatan khusus perlu juga diberikan kepada pendidikan ideologi bagi para sastrawan dan seniman Komunis. Bahasa sastrawan dan seniman adalah bahasa dari hati, maka mudah menyentuh hati dan membentuk pikiran pembaca atau orang yang menikmati keseniannya. Dengan memiliki pendirian proletariat yang teguh dan sikap kelas yang tepat terhadap berbagai hal yang konkret, seniman dan sastrawan Komunis dapat di dalam karya-karyanya mencapai perpaduan total dengan massa rakyat, dan memberi sumbangan yang sangat besar bagi revolusi.

Pada dewasa ini ajaran Marxisme-Leninisme sudah berakar di Indonesia. Benih Marxisme yang telah disebarkan di bumi Indonesia sejak tahun 1914 oleh ISDV (PSDH) dan melahirkan PKI (1920) kini telah erat berpadu dengan gerakan revolusioner Rakyat Indonesia. Marxisme-Leninisme telah membantu kita untuk menyimpulkan pengalaman-pengalaman revolusi kita, menganalisa masyarakat kita, dan memahami soal-soal revolusi kita. Pada gilirannya, Marxisme-Leninisme telah tumbuh dan diperkaya dengan pengalaman-pengalaman revolusioner rakyat kita sendiri. Itulah hasil daripada peng-Indonesia-an Marxisme-Leninisme, hasil daripada perpaduan kebenaran universal Marxisme-Leninisme dengan praktek konkret revolusi Indonesia, hasil penerapan Marxisme-Leninisme di bumi Indonesia dengan gaya-gaya Indonesia. Kini Marxisme-Leninisme sudah mulai dipelajari tidak hanya di dalam Partai tetapi juga oleh orang-orang progresif di luar Partai dengan bantuan Partai. Lambat-laun Marxisme akan menjadi milik tidak hanya dari kaum Komunis atau proletariat saja tapi akan menjadi milik semua nasion. Kita kaum Komunis Indonesia menganggap hal ini suatu proses penting yang wajar yang akan mempercepat tercapainya masyarakat sosialis di Indonesia.

Di bidang Organisasi daripada Plan 4 Tahun kita harus melipatgandakan jumlah anggota Partai dan jumlah anggota organisasi-organisasi massa progresif. Titik berat perluasan anggota Partai harus diletakkan pada menarik sebanyak mungkin anggota dari kalangan kaum tani, kaum wanita, dan inteligensia ke dalam Partai, dengan tidak mengurangi kegiatan menarik anggota-anggota baru dari kalangan kaum buruh, nelayan, pemuda, mahasiswa, seniman dan sastrawan, pegawai negeri, kaum miskin kota, dan sebagainya. Juga komposisi keanggotaan harus diperbaiki dilihat dari segi suku bangsa dan warga negara keturunan asing.

Pekerjaan Partai di kalangan tani harus lebih diperbaiki lagi, penelitian ke desa-desa lebih disempurnakan, penempatan dan promosi serta pendidikan kader tani harus diberi perhatian khusus.

Sesuai dengan keputusan sidang Pleno I CC, CSS supaya sungguh-sungguh dibikin menjadi kunci suksesnya pelaksanaan Plan dan metode memimpin supaya dilaksanakan dan disempurnakan dalam organisasi Partai dan organisasi massa pada semua tingkat.

Pandai, Berani, dan Berkebudayaan

Dengan semangat yang tinggi dan keberanian yang besar kita akan dapat mendobrak segala rintangan dalam meneruskan pembangunan Partai Komunis Indonesia yang lebih luas dan lebih terkonsolidasi, yang kader-kadernya pandai, berani, dan berkebudayaan.

PKI yang demikian itu akan mampu memberi sumbangan positif dan besar dalam memperkuat kegotongroyongan nasional berporoskan NASAKOM, dalam melaksanakan Manipol, Panca Program Front Nasional dan Dekon.

Memang adalah hukum perkembangan masyarakat, bahwa bila kelas-kelas revolusioner makin maju dan kelas-kelas reaksioner makin tersudut, maka makin meruncinglah perjuangan kelas dan makin kotor cara-cara yang digunakan oleh kekuatan reaksi untuk mempertahankan diri. Kita sudah mengalami bagaimana kaum kanan di Indonesia menggunakan Manipol untuk bertindak melawan Manipol. Mereka adalah “pemimpin-pemimpin gadungan yang mulutnya tidak henti-hentinya mengucapkan Pancasila, Pancasila, tetapi Nasakom-phobi” sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno dalam amanat beliau kepada Musyawarah Besar PBFN dan PDFN pada bulan Februari yang lalu.

Dengan kembalinya Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, kaum kanan ini berusaha keras untuk mengalihkan kewaspadaan Rakyat Indonesia dari musuh yang sesungguhnya. Berdasarkan situasi yang kita hadapi sekarang, PKI telah menarik kesimpulan bahwa musuh pertama Rakyat Indonesia dan musuh yang paling berbahaya adalah imperialisme Amerika Serikat. Adalah wajar bahwa dalam melawan musuh ini kita membutuhkan persatuan nasional sebulat-bulatnya lebih daripada yang sudah-sudah. Tetapi masih ada orang yang suka main korek-korek untuk merusak persatuan nasional, antara lain dengan mensejajarkan apa yang mereka namakan “PKI-Musso” dengan kontra-revolusi DI-TII, PRRI-Permesta dan sebagainya. Presiden Sukarno memang pernah menyebut-nyebut “PKI-musso”, tetapi tidak dalam arti mempersamakan dengan DI-TII atau PRRI-Permesta, melainkan dalam menentang “Sektarianisme”. Tukang-tukang korek itu menyebut-nyebut “PKI-Musso”, tapi sama sekali tidak menyinggung-nyinggung tentang pagi sial 17 Oktober 1952, ketika mereka mengacungkan mulut meriam ke istana Presiden Sukarno, dan tentang Partai-partai Masyumi-PSI, Partai-partai yang sungguh-sungguh kontra-revolusioner dan merupakan dalang-dalang aktif dari pengacauan-pengacauan kontra-revolusioner akhir-akhir ini. Dengan demikian mereka membuka kedok mereka sendiri bahwa sebetulnya mereka tidak setuju Penpres 7 dan Perpres 13 dan bahwa mereka bertindak langsung bertentangan dengan Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya yang menggariskan kerja sama Nasakom sebagai poros kegotongroyongan nasional.

Usaha-usaha kaum kanan utuk memecah-belah front persatuan nasional nampaknya mendapat sambutan dari sebagian tertentu dari golongan tengah yang masih menjadi tawanan kaum kanan. Tetapi gejala-gejala ini tidak mungkin melemahkan usaha-usaha PKI untuk memperkokoh front persatuan nasional. Kita berkeyakinan bahwa asalkan kekuatan progresif besar, terus berkembang dan pandai memukul musuh, serta dengan politik dan taktik PKI yang tepat, kita bisa terus menyatukan golongan tengah supaya terus berdiri di pihak revolusi dan rakyat, dan memencilkan lebih lanjut kaum kepala batu.

Dengan front nasional yang luas, yang menyatukan segenap potensi nasional dan dengan Partai Komunis Indonesia yang tersebar di seluruh negeri, terkonsolidasi dalam politik, ideologi dan organisasi, maka tidak ada benteng musuh yang tak dapat direbut. Kemenangan pasti di pihak kita, di pihak rakyat yang berjuang!

Front Nasional dengan Nasakom sebagai porosnya, hidup!

Kerja sama Rakyat dan Angkatan bersenjata, hidup!

Untuk tertib sipil, bantu Polisi!

Ayo, maju terus melaksanakan Manipol, Panca Program dan Dekon!

Ayo, ringkus dan ganyang kontra-revolusi!

Kaum Buruh semua negeri dan Nasion-nasion tertindas, bersatulah!

Berani, berani, sekali lagi, berani!